Semua Orang Bisa Menyukai Senja, Tapi Tidak Semua Pantas Disebut Anak Senja


Keindahan Senja 


"Senja Bukan Sekedar Tren, Melainkan Jeda Bagi Jiwa"

Beberapa tahun belakangan ini, istilah "anak senja" sering muncul di mana-mana. Dari sekedar memotret matahari sore dengan sedikit tambahan sentuhan kata-kata didalamnya, semua orang seolah ingin menggunakan label tersebut. Menurut kami, istilah tersebut sudah mulai kehilangan maknanya. Senja sekarang lebih sering dijadikan tren estetika daripada sebagai ruang renung, penyejuk hati yang sebenarnya.

Kami berpendapat, Senja bukan sekadar warna jingga yang indah untuk diabadikan. Ia berupa pemberhentian, yang mengajarkan arti menerima Dan melepaskan. Banyak orang yang mengaku mencintai senja, tapi hanya sedikit yang memahami pesan dibalik cahayanya. Bagi kami, menyukai senja belum berarti menjadikan mereka anak senja. Ada perbedaan antara menikmati keindahan dan memahami makna dibaliknya.

Istilah "anak senja" dulu menggambarkan jiwa-jiwa yang tenang , dalam dan peka terhadap makna hidup. Tapi maknanya tersebut memudar. Ia berubah menjadi simbol candaan dan pencitraan, seolah cukup dengan memotret langit, seseorang bisa lanvsung disebut anak senja. Kami merasa, hal ini justru merendahkan makna sebenarnya dari senja itu sendiri.

Sebagian Orang Hanya Menikmati Keindahan Senja

Menjadi anak senja bukan tentang gaya hidup, melainkan kesadaran batin. Tentang bagaimana seseorang menerima tidak semua hal bisa abadi, dan terkadang perpisahan pun punya keindahannya sendiri. Anak senja sejati bukan cuma menyukai senja karena warnanya, tapi karena karena sebagai tempat renungan bahwa segala sesuatu di dunia ini fana, dan itu tidak apa-apa.

Maka dari itu, kami merasa istilah itu terlalu berharga tanpa tau makna sesungguhnya. Tidak semua orang yang suka dan memotret senja adalah anak senja, sama seperti tidak yang pandai merangkai kata benar-benar memahami rasa. Bagi kami, senja bukan hanya tren semata, melainkan ruang kecil bagi jiwa yang ingin berdamai


 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Nilai dan Romansa : Cinta Mahasiswa UNP di Tengah Tumpukan Tugas

Revisi : Teknologi Datang, Peluang Tumbuh : Tukang Fotokopi UNP Tak Sekedar Bertahan

Tranformasi Pendidikan Kaum Perempuan di Indonesia: Kontribusi Historis Rahmah El Yunusiyah